Tampilkan postingan dengan label Artikel Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Parenting. Tampilkan semua postingan

Anak Tak Mau Ikut SMB???

Pembagian hadiah usai perayaan 17 Agustus-an di TP Vidyasagara, Sumber foto: TP Vidyasagara

Penulis mendapat kabar dari teman di luar kota (sebut saja dari kota A), anaknya tidak mau ke vihara, tentu saja tidak ikut SMB (Sekolah Minggu Buddhis).

Mengapa? Acaranya tidak menarik. Di lain kesempatan, penulis juga mendapatkan kasus sama. Anak susah sekali diajak ikut SMB, padahal mayoritas anak-anak Buddhis bersekolah di sekolah swasta berbasis non-Buddhis. Senin hingga Jumat mereka mendapat materi bukan agama Buddha (setidaknya bukan doa secara Buddhis). Masa' hari Minggu pun (cuma sekali seminggu), anak-anak juga tidak mendapatkan pengetahuan Dhamma???

Ini masih "mendingan" karena orangtuanya ada niat mengajak anak ke vihara. Di sisi lain, ada banyak keluarga yang secara administrasi beragama Buddha, tapi mereka tidak (baca: jarang) ke vihara.


Kasus "Mendingan"
Tadi penulis mengatakan mendingan karena orangtuanya sudah ada niat ke vihara, anaknya yang tidak mau ke vihara. Sayangnya tidak semua orangtua dapat memberikan bekal Dhamma kepada putra-putrinya (menggantikan peran Kakak Pembina di SMB).

Sebenarnya, kalaupun orangtuanya bisa mengajarkan Dhamma kepada putra-putrinya, anak juga tetap perlu ke vihara dan ikut SMB. Di sana ia bisa belajar bersosialisasi, belajar sambil bermain dengan teman, dan hal lain yang tak ia dapatkan kalau belajar Dhamma di rumah. Mirip seperti anak yang belajar di sekolah konvensional dan home schooling.


Anak Mogok ke SMB
Sebenarnya kasus anak yang tak ikut SMB adalah hal yang umum terjadi. Banyak hal yang menjadi penyebabnya (bukan faktor tunggal). 

Ada faktor orangtua (orangtuanya sendiri jarang ke vihara), faktor anak (santai di rumah dan main ke mal, umumnya lebih menarik dibandingkan ikut SMB), SMB itu sendiri (suasana SMB, materi Dhamma di SMB, dan Pembina SMB, tidak menarik di mata anak), dan faktor-faktor lain.


Hadiah untuk Si Kecil
Beberapa tahun lalu, hal yang sama pun terjadi di keluarga penulis. Kedua anak kami juga malas (ogah-ogahan), saat diajak ke vihara. Penulis pikir, anak masih kecil (masih bisa dikendalikan/diarahkan oleh orangtua), masa' kami yang kalah? Masa' kami sekeluarga tidak ke vihara gara-gara si kecil tidak mau ke vihara?

Jadi, apa yang kami lakukan? Pertama kami bujuk dengan aneka hadiah. Apa yang sedang menjadi kesukaannya, itulah yang kami tawarkan sebagai hadiah jika mereka mau ikut SMB. Dulu mereka sedang keranjingan main game Animal Kaiser dan baca buku. Jika mereka mau ikut SMB, pulang dari vihara kami ajak mereka ke mal, main game Animal Kaiser atau beli buku. 

Mereka mau? Oh tentu saja mau. Minggu ini main game Animal Kaiser, minggu depannya beli buku. Dengan cara ini, hingga sekarang, mereka terbiasa dan enjoy saja diajak ke vihara dan ikut SMB. Tidak perlu iming-iming hadiah lagi.

Bahkan, saat kami sekeluarga tidak bisa ke vihara karena ada keperluan lain (misal ada famili yang menikah, ada tamu dari luar kota, dan hal lain), Linda (istri penulis), berinisiatif mengadakan "sekolah Minggu" (hehehe... padahal pelaksanaannya hari Sabtu). 

Istri akan melakukan tanya jawab seputar Dhamma atau membacakan kisah Jataka, atau bisa juga bersama-sama kami mendengarkan ceramah Dhamma dari channel YouTube.

Hadiahnya? Mereka boleh jajan ke warung, biasanya beli es krim yang mereka suka.

Itu trik yang kami lakukan agar anak mau ikut SMB. Semoga sharing pengalaman ini bermanfaat bagi rekan-rekan se-Dhamma yang menghadapi masalah yang sama.

Jangan Ciptakan Monster di Rumah Anda


Hendry F. Jan | Jumat, 2 Februari 2018 15.00 PM Life
M-Scrofani

“Kecanduan Gawai Akut, 2 Pelajar Bondowoso Masuk RS Jiwa,” begitu judul berita di media online pada pertengahan Januari 2018. Betapa mengerikan dampak gawai (gadget) bagi putra-putri kita.

Di FB penulis juga pernah melihat video bagaimana putus asanya orangtua yang anaknya kecanduan gawai (tentunya kecanduan game). Anak sudah tidak peduli dengan apa yang dikatakan orangtua. Ia jadi malas belajar, bahkan sudah tidak mau sekolah.

Saking putus asanya, orangtua dalam video tersebut membanting, membakar, membuang gawai (gadget) yang sedang dimainkan anaknya. Anak pun menjerit histeris, mengamuk sejadi-jadinya, menghancurkan apa saja. Mereka layaknya jadi monster yang tidak bisa dikendalikan.



Kecanduan gawai
Di tempat umum mana pun, kita dengan mudah menemukan orang yang asyik dengan smartphone-nya. Mulai dari santai di kafe, di halte bus, sampai sedang mengendarai kendaraan di jalan . Akibat tidak fokus, tidak sedikit yang berakhir tragis (kematian).


Orang dewasa yang seharusnya sudah matang pemikirannya saja bisa terhanyut dan kecanduan, apalagi anak kecil.

Anak Anda rewel, saat Anda sedang sibuk. Apa solusi paling mudah? Cara paling mudah adalah memberinya smartphone yang ada game-nya. Anda bisa bekerja dengan tenang (atau asyik dengan medsos), anak Anda jadi tidak rewel dan tidak mengganggu aktivitas Anda.

Disadari atau tidak, inilah awal mulanya anak akan kecanduan dan kita mulai menciptakan monster di rumah kita. Apakah Anda merupakan salah satu orangtua yang melakukan hal ini? Jika iya, mari segera berubah


Batasi sejak dini
Memberikan gawai yang berisi game memang solusi paling mudah. Kelihatannya aman (secara fisik permainan di dunia maya ini aman). Anak Anda tidak akan terluka akibat memainkannya, beda dengan permainan konvesional yang banyak memerlukan gerak fisik.

Tapi dampak buruk game jauh lebih parah daripada permainan konvensional. Untuk tumbuh kembang, permainan konvensional jauh lebih baik. Permainan konvensional membuat anak banyak bergerak dan bersosialisasi. Gerak dalam bermain dan bersosialisasi dengan teman sangat baik bagi tumbuh kembang buah hati kita.

Bandingkan dengan anak yang bermain game. Dalam permainan di dunia maya ini, yang lebih banyak bergerak hanyalah jari tangan. Dan permainan ini membuat anak lupa dengan dunia di sekitarnya (antisosial) dan tentu saja bersifat adiktif (membuat anak kecanduan).


Ayo kita peduli
Penulis pernah menyaksikan langsung bagaimana buruknya dampak game bagi seorang anak. Anak jadi temperamental, nilai pelajaran menurun, dan susah diajak berkomunikasi.

Saat diajak bicara, dia malas menjawab dan tetap fokus ke gawainya. Kalaupun menjawab, jawabannya pendek-pendek dan ia berharap tidak terus ditanya karena mengganggu waktu bermainnya.

Dari sini kebohongan pun dimulai. Ada PR? Jawaban yang keluar, “Tidak ada.” Atau jika kita tahu ada PR, dan tanya sudah buat PR? “Sudah,” jawabnya, meski belum dikerjakan.

Anak jadi malas berkomunikasi dan lebih tertutup. Kalau begini, kita jadi tidak bisa memantau perkembangan anak. Tidak tahu ia sedang dekat dengan siapa, apakah ia ada masalah di sekolah, dan hal lainnya.

Akibat kecanduan game, susah disuruh mandi, jam tidur bergeser jadi lebih malam, bangun pagi lebih sulit, tidak konsen saat belajar di sekolah.


Mengalah untuk menang
Sebagai orangtua, anak adalah harta kita yang paling berharga. Mari kita mengalah untuk menyelamatkan masa depan buah hati kita. Kurangi kesenangan kita pada medsos, sisihkan waktu lebih banyak berinteraksi dengan anak.

Mari kita menyelami dunia anak kita. Orangtua harus bisa jadi orangtua bagi anak, sekaligus kakak (tempat curhat), dan teman sebaya (bisa diajak main bareng).

Mulailah mendongeng untuk anak balita kita sebelum tidur, luangkan waktu bermain bersama layaknya kita teman sebayanya, duduk bersama, temani dia saat mengerjakan PR, dan dengarkan curhatnya. Jika kita dekat dengan anak kita, apa pun yang terjadi, ia akan curhat ke kita, bukan cerita ke orang lain dan mendapat solusi yang belum tentu benar.


Batasi main game
Anak tidak boleh main game? Itu bukanlah solusi yang bijak. Zaman sudah berubah, kita tidak mungkin menjaga anak kita agar sama sekali tidak menyentuh gawai dan bermain game di dunia maya.

Boleh saja main game tapi dengan pembatasan. Kami membatasi anak hanya boleh main game hanya pada akhir pekan (Jumat dan Sabtu). Itu pun setelah semua tugas sekolah telah diselesaikan. Minggu tidak boleh pegang gawai karena konsen untuk pujabakti di vihara. Hari Minggu waktu untuk keluarga. Tapi aturan ini bersifat  fleksibel kok. Kadang anak butuh smartphone untuk berkomunikasi dengan temannya tentang tugas sekolah atau kadang digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah.

Pembatasan penggunaan gawai harus dimulai sejak dini, karena jika anak sudah kecanduan (baca: jadi monster), itu sudah terlambat. Butuh waktu, tenaga, dan kesabaran ekstra untuk mengembalikan anak ke jalurnya. Mari mulai dari sekarang, atau kelak Anda akan menyesalinya. Percayalah, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.



 


Hendry Filcozwei Jan

Suami Linda Muditavati, ayah 2 putra dari Anathapindika Dravichi Jan dan Revata Dracozwei Jan. Pembuat Apps Buddhapedia, suka sulap dan menulis, tinggal di Bandung.


Sumber: BuddhaZine

Mau, Anak Kita Pindah Agama?

Hendry F. Jan * | Sabtu, 13 Januari 2018 10.44 AM Culture

Ilustrasi: Agung Wijaya

Seorang remaja Buddhis (entah laki-laki atau perempuan), berpacaran dengan yang beda keyakinan, lalu menikah (remaja Buddhis ini pindah keyakinan). Anda pernah melihat kejadian seperti ini?

Penulis juga pernah melihat kejadian seperti itu. Bahkan yang kejadiannya lebih parah. Sejak kecil ia Buddhis, kedua orangtuanya Buddhis, kakaknya Buddhis, rumahnya dekat vihara, dan biaya pendidikannya didukung program adik asuh dari organisasi Buddhis. Ia berpacaran dengan yang beda keyakinan, sekarang ia sudah menikah dan akhirnya pindah keyakinan.

Tak ada yang dapat kita lakukan jika melihat kejadian seperti ini. Agama adalah wilayah privasi. Itu hak pribadi yang bersangkutan. Dan kejadian ini (pindah keyakinan), tidak hanya terjadi pada Buddhis saja, tapi juga pada umat beragama lain.

Hanya saja penulis jadi sering bertanya-tanya, apakah ada yang “salah” dalam pendidikan agama Buddha?



Sejak dini
Pendidikan agama seharusnya diberikan sejak dini. Sejak anak masih kecil (bahkan sebelum bersekolah) anak harus dikenalkan dengan agama, karena agama adalah fondasi kehidupan.

Papa dan Mama mengajak anaknya ikut bersembahyang di altar (jika ada altar di rumah). Atau mengajarkan Dhamma dengan cerita, atau memutar film kartun Buddhis (meski belum banyak, tapi di zaman teknologi sekarang ini, segalanya jauh lebih mudah, misalnya mencari film Buddhis di YouTube).

Ada cara yang lebih mudah, hari Minggu, ajaklah si kecil ikut ke vihara. Ikut pujabhakti jika di vihara tersebut belum ada SMB (Sekolah Minggu Buddhis).



Pilih sekolah
Ada kasus lain yang penulis ketahui, anak pindah keyakinan karena pergaulan dan pengaruh lingkungan. Pengaruh lingkungan bagaimana? Senin hingga Jumat, ia belajar dan berdoa sesuai agama dari lembaga pendidikan tersebut.

Hari Minggu pun ia tidak bisa ke vihara karena ada tugas dari sekolah untuk pergi ke tempat ibadah lain (waktunya bersamaan dengan pujabhakti di vihara). Dalam hal ini, pergaulan dan lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh besar bagi anak dalam pemilihan agama jika orangtua tidak membekali pengetahuan Dhamma sejak dini.

Kita tahu, sekolah Buddhis belum banyak. Kalaupun ada di kota tersebut, belum tentu umat Buddha menyekolahkan anaknya di sekolah Buddhis.

Banyak hal yang melatarbelakangi hal ini. Mungkin lokasi sekolah sangat jauh dari tempat tinggal, mungkin biaya pendidikannya relatif mahal, mungkin jenjang pendidikannya belum ada (anaknya sudah SMP, sementara sekolah Buddhis di kota itu baru ada jenjang SD), dan alasan lainnya.

Ada satu pertanyaan yang selalu kami tanyakan saat mendaftarkan anak ke sekolah (sejak PG hingga SMP), hal ini selalu kami tanyakan. “Kami sekeluarga Buddhis. Kami tidak masalah di sekolah anak kami belajar agama yang sesuai dengan agama yayasan sekolah ini. Tapi hari Minggu anak-anak kami harus pergi ke vihara. Apakah hari Minggu anak juga harus ikut pelajaran agama dari sekolah?” itu yang kami tanyakan.

Dan untungnya, guru dan kepala sekolah menjawab, “Tidak ada Pak. Kegiatan sekolah hanya hari Senin sampai Jumat. Kegiatan ekskul pun sama. Hanya terkadang ada ekskul yang terpaksa digeser ke hari Sabtu. Hari Minggu tidak ada jadwal kegiatan sekolah.”

Sudahkah Anda pertanyakan hal ini saat mendaftarkan buah hati Anda? Kalau ada kewajiban ikut kegiatan (ibadah) sampai hari Minggu, ada baiknya Anda mencari sekolah lain.



Ikut SMB
Langkah paling mudah untuk menyiapkan fondasi agama Buddha bagi putra-putri Anda adalah mengajaknya ke vihara dan ikut SMB (Sekolah Minggu Buddhis).

Terlebih bagi Anda yang kurang begitu mengenal Dhamma atau kurang bisa menjadi guru yang mengajarkan Dhamma kepada buah hati Anda. Anda cukup mengajarkan Dhamma dengan menjadi teladan bagi mereka.

Penulis amati, langkah-langkah yang diambil para pembina SMB sudah cukup baik (meski bukan pembina SMB, penulis ikut dalam group WA “Pembina SMB” dan memantau perkembangan Sekolah Minggu Buddhis di Indonesia).

Para pembina SMB inilah yang menyiapkan fondasi Dhamma bagi murid-murid Buddha (putra-putri kita) agar keyakinan mereka pada Buddhadhamma tidak mudah goyah.

Mereka (para pembina SMB) menciptakan suasana belajar yang menarik agar anak mau ikut SMB. Ada SMB yang memberikan poin bagi setiap anak yang hadir, poin tambahan jika jadi pemimpin pujabakti, poin tambahan jika bisa menjawab pertanyaan. Poin ini nantinya bisa ditukar dengan aneka macam hadiah, dari alat tulis, stiker, sampai boneka.

Belajar Dhamma di SMB kini bervariasi, tidak hanya mendengar kakak pembina bercerita, tapi terkadang juga diisi dengan menonton film kartun Buddhis, bernyanyi, membuat aneka kerajinan, dan lain-lain.

Ada juga yang mengadakan perayaan ultah bersama setiap bulannya. Ada yang mengadakan kegiatan outing (mengunjungi SMB lain atau pergi ke tempat wisata). Setiap selesai kegiatan SMB, selalu ada konsumsi buat buah hati Anda. Jika Anda peduli dengan SMB, sesekali Anda dapat berdana makanan bagi anak-anak SMB.

Sekarang “Pembina SMB” memiliki sebuah aplikasi bernama “Majalah SMB” yang akan menyajikan berita-berita kegiatan SMB dan memuat karya anak-anak SMB dari berbagai kota di Indonesia. Semua ini dilakukan untuk menarik minat anak-anak datang ke SMB.

Pilihan agama memang adalah hak pribadi setiap orang, tapi sebagai Buddhis, penulis yakin Anda ingin anak-anak Anda tetap jadi murid Buddha hingga akhir hayatnya.

Satu keyakinan dalam sebuah keluarga, tentu lebih memudahkan dalam banyak hal. Anda sekeluarga bisa datang bersama-sama ke vihara pada hari Minggu atau saat perayaan Trisuci Waisak, mengikuti prosesi pernikahan putra-putri Anda di vihara, saat ada permasalahan, kita memiliki pedoman yang sama, yakni Tipitaka.

Bukankah semua anicca? Semua yang berkondisi tidaklah kekal. Iya, benar. Tidak ada hal yang kekal. Anak beragama A, bisa pindah jadi pemeluk agama B. Tapi yang harus diingat, sebagai orangtua Buddhis, kita harus berusaha memberikan fondasi Dhamma sejak dini. Itu tugas kita sebagai orangtua.

Mari bersama, kita siapkan murid Buddha agar kelak Dhamma tetap jadi pedoman utama hidup mereka. Pembina SMB, anak-anak SMB, orangtua yang anaknya usia SMB, dan yang peduli SMB, jika ingin download aplikasi “Majalah SMB”, silakan klik: Majalah SMB



* Pembuat aplikasi Buddhis, Buddhapedia. Suka sulap dan menulis, tinggal di Bandung. Mengelola dua portal informasi Buddhis yakni, www.vihara.blogspot.com dan www.rekor.blogspot.com

Sumber: BuddhaZine


 Hendry Filcozwei Jan

Guru Sekolah Minggu Buddhis di Australia yang Penuh Pelukan


Lee Chan dan David adalah pasangan suami-istri Buddhis yang sering berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan Sangha di Wihara Bodhinyana, Perth, Australia dan di beberapa wihara lain. Setelah 10 tahun tinggal di Perth dan rutin menjalani perbuatan baik ini, Lee sadar bahwa butuh usaha lain untuk mengembangkan Buddhisme. Ia kemudian mendirikan sekolah Minggu Buddhis bagi anak-anak.

Mereka sadar bahwa masa paling krusial dalam pembentukan kepribadian adalah pada masa kanak-kanak dan remaja. Banyak orang berbondong-bondong membangun wihara untuk memfasilitasi ibadah umat Buddha. Padahal, kalau cuma wihara yang bertebaran sementara pendidikan Buddhis tidak diindahkan, Buddhisme tidak akan berkembang.

“Siapa pun yang tertarik bisa datang dan bergabung,” ujar Lee yang bersama suaminya kompak mencukur habis rambutnya. Ia membuka sekolah Minggu untuk semua anak dari semua kalangan. Ia tidak membatasi agama lain untuk belajar nilai-nilai Buddhisme di sekolah Minggunya. Di samping itu, ia tidak mengajarkan teori-teori dalam Buddhisme semata. Ia fokus pada pembentukan kepribadian yang baik yang sesuai Dharma. Ia menggunakan kalimat sederhana yang dipahami anak-anak dalam mengajar. Misalnya saat mengajar sila pertama Pancasila Buddhis, ia menjelaskan dengan cara, “Membunuh binatang adalah perbuatan buruk. Kalian hanya perlu membawa binatang itu keluar jika merasa terganggu.”

Lee mengondisikan sekolah Minggu yang berbeda dengan sekolah Minggu pada umumnya. Kalau kita terbiasa dengan membaca paritta atau sutra, menyanyikan lagu Buddhis, kemudian pulang dengan membawa makanan dari sekolah Minggu, Lee punya cara yang unik dalam mengajar anak-anak. Ia memeluk setiap anak muridnya sebagai salah satu bentuk kasih sayang yang selalu diajarkannya. Ia menginginkan anak-anak merasakan kehangatan dan melakukan hal yang sama kepada orangtua mereka. Lee memanggil semua orang dengan sebutan “Darling”. Ia menjelaskan kepada murid-muridnya, “Kalian harus menyayangi orangtua, adik, kakak, guru, teman, dan semua makhluk.” Karena hal ini, ia bahkan mendapatkan julukan “Hugging-teacher-Lee”. Walaupun Lee kadang tidak sempat untuk mengajar di sekolah Minggu, anak-anak selalu datang kepadanya dan memeluknya. Setelah itu, ia akan menyempatkan waktu untuk mendengarkan anak-anak bercerita tentang orangtua dan masalah-masalah mereka.

“Anak-anak sangat jujur. Setiap masalah yang tidak berani mereka ceritakan kepada orangtua, mereka ceritakan kepada guru sekolah Minggu,” kata Lee. Pernah suatu kali seorang anak bercerita bahwa orangtuanya melanggar salah satu sila yang sudah diajarkan padanya. Lee lalu menemui orangtua anak tersebut dan bicara kepada mereka bahwa jika mereka ingin anak-anak menjaga sila, mereka juga harus mempraktikkan Pancasila Buddhis supaya tidak membuat anak-anak bingung.

Inilah perbedaan sekolah Minggu yang didirikan Lee dengan sekolah Minggu lain. Interaksi antara guru dan murid sangat erat, sehingga anak-anak selalu menanti hari Minggu. Mereka tidak hanya mendapatkan teman bermain, tetapi juga mendapatkan kasih sayang yang jarang didapatkan dari orangtua mereka yang sibuk.

Tidak hanya itu, sekolah Minggu ini juga mengajarkan Dharma dengan cara yang menarik. “Pada akhir tahun, murid dari seluruh kelas bergabung untuk membuat sebuah drama Buddhis. Karena itu, mereka menjadi dekat satu sama lain,” ujar David. Cerita yang sering diadaptasi ke dalam drama Buddhis adalah cerita-cerita lucu yang dikisahkan oleh Ajahn Brahm. Metode pengajaran Dharma seperti ini sangat disukai anak-anak dan bahkan para orangtua.

Meditasi juga diajarkan di sekolah Minggu. Lagi-lagi, uniknya, anak-anak tidak dipaksa meditasi. Mereka dibiasakan secara bertahap: mulai dari duduk diam selama 5 menit untuk mendengarkan kicauan burung dan suara alam, kemudian durasi ditambah menjadi 10 menit, sebelum akhirnya mereka diajarkan meditasi dengan memerhatikan napas selama 15 menit.

Minat orang Australia terhadap Buddhisme terbukti amat besar. Hal ini terlihat dari total 100 anak yang didaftarkan oleh orangtua untuk belajar Dharma di sekolah Minggu yang diadakan di Dhammaloka City Centre, Perth. Bahkan, ada 20 anak lagi dalam waiting list yang menunggu kesempatan untuk belajar Dharma. Lee tidak langsung menerima anak-anak dalam waiting list. “Saya ingin fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Karena, kami harus memberi perhatian kepada anak-anak dan berbicara dengan mereka,” ujarnya. Alasan lainnya adalah karena sekolah Minggu hanya memiliki sembilan guru yang semuanya relawan, sehingga jumlahnya tidak memadai untuk memerhatikan lebih banyak anak. Meskipun semua guru adalah relawan, mereka direkrut dengan kualifikasi khusus, untuk menjamin mereka bisa mengajar dan berinteraksi dengan baik dengan anak-anak.

Murid sekolah Minggu dibagi ke dalam empat kelas. Yang pertama adalah Pre-Primary ( 3-5 tahun), Junior ( 5-7 tahun), Middle (8-12 tahun), dan Senior (12-17 tahun). Sekolah Minggu ini juga memiliki peraturan layaknya sekolah formal dan memiliki silabus yang baku.

“Sekolah Minggu adalah pendekatan yang halus. Hal ini seperti menanamkan benih ke dalam anak-anak. Jika setelah lulus dari sekolah Minggu ini mereka memilih beragama Islam atau Kristen, semua itu keputusan mereka,” ujar David. “Tak pandang apa agama mereka, kami senang mendidik anak-anak sejak kecil untuk menanamkan nilai-nilai yang baik, nilai-nilai universal yang didasari oleh nilai-nilai Buddhisme.” (
Paramita Gotami)

Sumber: BuddhaZine

Memperkenalkan Agama Buddha Pada Anak Sejak Dini

Sumber foto: Majalah SMB

Sumber foto: Majalah SMB
  
Banyak orangtua yang mungkin bingung bagaimana memperkenalkan agama Buddha pada anak, atau pada usia berapa anak sebaiknya diajak ke sekolah Minggu.

Kebanyakan merasa usia anaknya masih terlalu kecil untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu yang diadakan. Ada juga yang menganggap bahwa sebaiknya anak mulai diajak ketika sudah SD saja, akibatnya jika anak bersekolah di sekolah agama lain, mereka justru lebih dulu mengenal ajaran agama lain ketimbang agamanya sendiri.

Sebenarnya sejak 1 tahun anak sudah boleh diajak ke sekolah Minggu. Rata-rata vihara pasti memiliki sekolah Minggu, bahkan banyak vihara yang memisahkan anak berdasarkan usianya.

Lalu bagaimana jika anak tidak bisa mengikuti?

Tidak perlu khawatir, coba Anda pikirkan, sekarang saja banyak sekolah yang membuka kelas pre school di mana anak mulai usia 1,5 tahun sudah bisa bersekolah. Apa anak bisa mengikuti? Tidak juga, yang penting anak belajar berinteraksi baik secara fisik, visual, maupun audio.

Begitu juga dengan sekolah Minggu di vihara, tidak perlu khawatir jika mereka belum bisa mengikuti. Yang terpenting mereka mulai mengenal agama Buddha baik melalui lagu, gambar, paritta, dan lain-lain. Jadi yuk mulai perkenalkan agama Buddha sejak dini kepada anak Anda.

Sumber artikel: Agama Buddha

Membasmi Generasi "Home Service"

Apa itu generasi “Home Service?

Generasi
“Home Service adalah generasi yang selalu minta dilayani. Ini terjadi pada anak-anak yang hidupnya selalu dilayani oleh orangtuanya atau orang yang membantunya.

Mulai dari lahir mereka sudah diurus oleh pembantu, atau yang punya kekayaan berlebih diasuh oleh babysitter yang setiap 24 jam siap di samping sang anak. Ke mana-mana anak diikuti oleh babysitter. Bahkan sampai umur 9 tahun saja ada babysitter yang masih mengurus keperluan si anak karena orangtuanya sibuk bekerja.

Anak tidak dibiarkan mencari solusi sendiri. Contoh kecil saja, membuka bungkus permen. Karena terbiasa ada babysitter atau ART, anak dengan mudahnya menyuruh mereka membukakan bungkusnya. Tidak mau bersusah payah berusaha lebih dulu atau mencari gunting misalnya.

Contoh lain memakai kaus kaki dan sepatu. Karena tak sabar melihat anak mencoba memakai sepatunya sendiri maka orang dewasa yang di sekitarnya buru-buru memakaikan kepada anak.

Saat anak sudah bisa makan sendiri, orangtua juga seringkali masih menyuapi karena berpikir jika tidak disuapi makannya akan lama dan malah tidak dimakan.

Padahal jika anak dibiarkan tidak makan, maka anak tidak akan pernah merasa apa namanya lapar. Dan saat lapar datang seorang anak secara otomatis akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Bagaimana dia akan belajar makan sendiri jika dia tidak pernah merasakan apa itu namanya lapar?

Bagaimana dia akan belajar membuat minuman sendiri jika dengan hanya memanggil ART atau babysitter atau orangtuanya saja minuman itu akan datang sendiri kepadanya.

Saya mengutip perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Tapi beranikah semua orangtua memberikan hadiah itu pada anak?

Faktanya saat ini banyak orangtua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan memberikan tantangan.

Saat anak bertengkar dengan temannya karena berebut mainan, orangtua malah memarahi teman anaknya itu dan membela sang anak.

Ada pula yang langsung membawanya pulang dan bilang, ”Udah nanti Ibu belikan mainan seperti itu yang lebih bagus dari yang punya temanmu..gak usah nangis,

Padahal Ibu tersebut bisa mengatakan, “Oh... kamu ingin mainan seperti yang punya temanmu ya? 
 
Gak usah merebutnya sayang… kita nabung dulu ya nanti kalau uangnya sudah cukup kita akan sama-sama ke toko mainan membeli mainan yang seperti itu.”

Ada tantangan yang diberikan pada anak bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan maka dia harus berusaha.

Dalam keseharian generasi
“Home Service semua pekerjaan rumah tangga tak pernah melibatkan anak. Saat anak membuat kamarnya berantakan langsung memanggil asisten untuk segera merapihkan kembali.

Anak menumpahkan air di lantai, dilap sendiri oleh ibunya. Anak membuang sampah sembarangan, dibiarkan saja menunggu ART menyapu nanti.

Dalam hal belajar saat anak sulit belajar, orangtua telepon guru les untuk privat di rumah.

Generasi inilah yang nantinya akan melahirkan orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.

Badannya dewasa tapi pikirannya selalu anak-anak, karena tak pernah bisa memutuskan sesuatu yang terbaik buat dirinya. 

Sekolah yang carikan orangtua. Rumah yang belikan orangtua. Kendaraan yang belikan juga orangtua. Giliran berkeluarga yang mengasuh anak dan jadi pembantu di rumahnya juga ya si orangtuanya. 

Kasian banget ya… sudah modalin banyak ternyata orangtua tipe begini hanya akan berakhir jadi pembantu di rumah anaknya sendiri.

Ajaklah anak bermain pada tujuh tahun pertama, disiplinkanlah anak pada tujuh tahun kedua dan bersahabatlah pada anak usia tujuh tahun ketiga.”

Untuk anak usia 7 sampai dengan 14 tahun, mulailah mendisiplinkannya, belajar mengerjakan PR sepulang sekolah, menyiapkan buku untuk esok pagi, membantu mencuci piring yang kotor, menyapu halaman rumah dan lain-lain. Apabila anak umur 7
sampai dengan 14 tahun, itu tidak melakukan kewajibannya maka perlu diingatkan agar dia menjadi terbiasa dan disiplin.

Untuk anak usia 14
sampai dengan 21 tahun, maka orangtua perlu menolong anak untuk belajar bagaimana menggunakan waktunya, dan mengajari anak tentang skala prioritas.

Anda yang sudah menjadi orangtua pasti merasakan bagaimana seorang ibu harus membagi waktunya yang hanya 24 jam itu untuk bisa mengelola sebuah rumah tangga. Pekerjaan yang tiada habisnya.

Karena itu sebelum Anda menjadi depresi sendirian, maka libatkanlah anak anak dalam pekerjaan rumah tangga.

Faktor terpenting dalam meniadakan generasi
“Home Service adalah peran ayah dalam mengerjakan perkerjaan rumah tangga.

Di Indonesia masih banyak suami yang tidak mau terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Seakan-akan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, mengepel, dan lain-lain itu adalah aib buat seorang suami. Padahal keikutsertaan para ayah dalam pekerjaan rumah tangga, berpengaruh positif terhadap keharmonisan keluarga. 

Buat saya, suami yang mau melakukan pekerjaan rumah tangga itu lebih macho dan ganteng dari aktor sekaliber Brad Pitt atau Jason Statham.

Jadi sudah siapkah keluarga Anda meniadakan
generasi “Home Service? Yuk kita sama sama mulai dari sekarang demi kebaikan dan masa depan anak-anak kelak.

Diringkas dari tulisan: Deassy M.D.

Semoga bermanfaat 🙏🏽

Didapat dari kiriman di group WA, diedit seperlunya oleh Hendry Filcozwei Jan.